Minggu, 07 Februari 2016
Rabu, 06 Januari 2016
Kantor bersama PD. Hima Persis Garut, ba’da Ashar. Atas izin Allah swt. telah terlaksanakannya “Kajian Bulanan” perdana bersama Al-UstadzDaden Robi yang membahas terkait “Aqidah” dalam kitab ‘Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyyah.Segala puji bagi Allah, sepiring kacang sebagai hidangan menghiasi ruangan yang dipadati oleh orang yang berstatus mahasiswa. Meskipun begitu, kehangatan menyapa jalannya kajian, karena memang pembahasannya yang sarat dengan ilmu yang bermanfaat, dan tentunya pembahasan yang sangat hangat diperdebatkan oleh kalangan cendekiawan.
Dalam permulaannya, Al-Ustadz Daden memberikan penjelasan terkait Aqidah secara bahasa maupun secara istilah. Karena, tutur beliau, umumnya setiap mengkaji kitab para ulama pasti akan dipertemukan dengan pembahasan awalnya 'lughatan' wa 'isthilaahan'.
Lebih lanjut beliau menjelaskan, bahwa hari ini Islam Liberal itu sedang gencar-gencarnya mengacaukan makna, mengacaukan pengertian bahasa dan istilah, mereka mendekonstruksikan (meruntuhkan) makna, kita harus paham hal ini, padahal dari segi bahasanya juga Islam Liberal itu sudah kontra produktif. Katanya.
Secara bahasa, Aqidah itu diambil dari kata Akad, ada juga akad pernikahan. Apa itu akad? Akad itu adalah ikatan, kokoh, kuat, tetap, peneguhan. Maka, tegas beliau, agama itu isinya aturan (terikat), kalau ingin bebas berarti dia tidak beragama.
Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa, ada lima nama lain dari Aqidah, di antaranya; 'Aqidah', 'Tauhid', 'Sunnah', 'Ushuluddin', dan 'Fiqhul Akbar'.
Aqidah itu merupakan hal yang tak nampak dan suatu prinsip dasar yang mesti dipegang kuat. Kalau dianalogikan seperti pohon yang senantiasa dipanen buahnya, beliau menyatakan, Aqidah itu ibarat akarnya, Ibadah sebagai cabangnya, dan Akhlak adalah hasilnya.
Selain itu, beliau juga membantah hukum kausalitas (sebab-akibat) yang sarat dengan menafikan peran Tuhan. Dalam analoginya, beliau mendorong yang ada dihadapannya, yaitu botol air minum yang didepan botol tersebut ada sebuah piring. Beliau mengungkapkan, siapa yang mendorong piring tersebut? Atau piring yang menarik botol? Atau tangan yang melakukan dorongan terhadap botol? Kalau tangan, siapa yang mendorong tangan untuk melakukan dorongan tersebut, hati kah, kan innamal a'malu binniyat? Kalau memang hati, siapakah yang menggerakkan hati? Tentunya, muqallibal quluub, yaitu Allah swt. Ungkapnya.
Beliau mengakhiri dengan memberikan pesan bahwa, dalam masalah Aqidah kita mutlak harus memihak, kita harus eksklusif (menutup diri), supaya tidak kacau seperti Pluralisme (membenarkan semua agama). Dan, untuk pertemuan kajian selanjutnya kita membahas Ahlu Sunnah secara mendalam, supaya tidak kebingungan. Adapun untuk pembahasan Ilmu Kalam, itu tidak membingungkan, kita pegang Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Insya Allah, bulan depan kita mengkaji kembali dengan pembahasan yang jauh lebih menarik. Pungkas alumnus PKU ISID-Gontor tersebut.
Demikian coretan singkat atas hasil kajian perdana kemarin, Senin 05 Januari 2016.
Semoga bermanfaat!
Selasa, 09 Juni 2015
Peranan Mahasiswa Islam dan Gejolak Politik Bangsa (Membangun Masa Depan Islam Indonesia)
Dilan Imam Adilan
Pimpinan Redaksi Buletin RADIKAL, Kadept.Kaderisasi
HIMA Persis Garut, Alumnus Kampus Bening STAIPI Garut
Banyak kalangan
menganggap persoalan terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini ialah kekalahan
politik. Maka penyelesaian yang ditawarkan pun tak jauh dari perkara berebut
kekuasaan.[1]
Munculnya
pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin ummat, melainkan juga tidak
memiliki akhlaq yang luhur, kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, yang
sangat diperlukan dalam sebuah kepemimpinan.[2] Para pemimpin ini
kebingungan dan keliru dalam mengambil kebijakan yang pada akhirnya menyebabkan
kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Hal ini kemudian ditambah dengan ketiadaan
adab[3] dalam tubuh masyarakat.
Maka
benarlah apa yang disabdakan Nabi dalam sebuah hadis, bahwa kondisi pemimpinmu
mencerminkan kondisi rakyat yang dipimpinnya (Kama Takunu Yuwalla alaikum).[4] Hadis tersebut menyiratkan
bahwa spiritualitas, etik moral masyarakat yang bagus, maka yang akan tampil
sebagi pemimpin mereka adalah orang yang punya karakteristik seperti itu.[5]
Apa peranan
Mahasiswa Islam sesungguhnya dalam menghadapi gejolak politik bangsa? Sejauh
mana persiapan kita membangun masa depan Islam di Indonesia? semoga tulisan
sederhana ini membuka keran gagasan kawan-kawan selanjutnya..
****
Memainkan
Peranan Sesungguhnya
Mahasiswa sebagai katalisator bagi
masyarakat atas kebijakan penguasa mempunyai peranan penting untuk menyalurkan
aspirasinya. Mengingat mahasiswa mempunyai potensi-potensi dan ide yang dapat
membantu kemajuan negara secara umum. Gerakan Mahasiswa secara historis tampil
ke muka sebagai penumbang rezim anti rakyat, korup, yang gagal dalam
menjalankan peranannya sebagai memimpin bangsa.[6]
Mereka hadir di garda terdepan berjuang demi perubahan dan berkata tidak pada
ketidakadilan.
Kebenaran
dan keadilan tidak bisa dibungkam oleh siapapun termasuk rezim Jokowi yang
ditopang para Kapitalis. Semakin kuat rakyat dibungkam, maka akan semakin keras
berteriak.[7]
Mahasiswa
Islam (secara khusus) berperan untuk menganalisis dan menggiring opini publik [8]terhadap pemahaman yang benar
terhadap gejolak politik bangsa ini. Selain itu, mahasiswa Islam sebagaimana
analisis Alam Permana[9]mengenai Q.S Ali Imron :
190-191, bahwa Ulul Albab atau dalam hal ini mahasiswa Islam adalah orang yang
senantiasa merenungi ayat-ayat Allah. Serta, makna yang terkandung dalam ayat
ini yaitu tuntutan bagi orang yang sholat untuk menyebar atau melakukan
perubahan baik nasib pribadi terlebih masyarakat secara komunal.
Julien Benda
berkata,“Alih-alih kaum intelektual memegang tinggi kemanusiaan yang menjadi
dasar segala Ilmu, telah menyesuaikan diri pada berbagai macam aliran egoisme
dan kepentingan disebelah masyarakat atau di luar kepentingan masyarakat. Orang
terpelajar tidak saja dikalahkan, tapi juga di pungut, orang terpelajar disewa
oleh penguasa.”
Mahasiswa
Islam bukan menjadi “pengkhianat Intelektual”, mahasiswa Islam berkorban untuk
kepentingan masyarakat dan agama, dan bukan malah menyerahkan diri pada
penguasa yang memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing.[10]
Jika ditilik
dari perspektif sistem, sistem politik adalah subsitem dari sistem sosial.
Pendekatan sistem melihat keseluruhan interaksi yang ada dalam suatu sistem
yakni suatu unit yang relatif terpisah dari lingkungannya dan memiliki hubungan
yang relatif tetap diantara elemen-elemen pembentuknya.[11]
Namun realitas politik bangsa
kita dewasa umumnya cenderung machiavellistik
sehingga ukuran efektivitas system politik bergeser, dari kesejahteraan rakyat
menjadi kemampuan untuk mempertahankan diri dari tekanan untuk berubah. Pandangan ini tidak membedakan antara sistem politik yang
demokratis dan sistem
politik yang otoriter.
Artikulasi Kepentingan adalah suatu proses
penginputan berbagai kebutuhan, tuntutan dan kepentingan melalui wakil-wakil
kelompok yang masuk dalam lembaga legislatif, agar kepentingan, tuntutan dan
kebutuhan kelompoknya dapat terwakili dan terlindungi dalam kebijaksanaan
pemerintah.
Pemerintah dalam mengeluarkan suatu keputusan dapat bersifat menolong
masyarakat dan bisa pula dinilai sebagai kebijaksanaan yang justru menyulitkan
masyarakat. Oleh karena itu warga negara atau setidak-tidaknya wakil dari
suatu kelompok harus berjuang untuk mengangkat kepentingan dan tuntutan
kelompoknya, agar dapat dimasukkan ke dalam agenda kebijaksanaan negara. Wakil
kelompok yang mungkin gagal dalam melindungi kepentingan kelompoknya akan
dianggap menggabungkan kepentingan kelompok, dengan demikian keputusan atau
kebijaksanaan tersebut dianggap merugikan kepentingan kelompoknya.
Bentuk artikulasi yang paling umum di semua sistem politik adalah
pengajuan permohonan secara individual kepada para anggota dewan (legislatif),
atau kepada Kepala Daerah, Kepala Desa, dan seterusnya. Kelompok kepentingan
yang ada untuk lebih mengefektifkan tuntutan dan kepentingan kelompoknya,
mengelompokkan kepentingan, kebutuhan dan tuntutan kemudian menyeleksi sampai
di mana hal tersebut bersentuhan dengan kelompok yang diwakilinya.
Artikulasi kepentingan sudah ada sepanjang sejarah dan kelompok
kepentingan akan semakin tumbuh seiring semakin bertambahnya kepentingan
manusia, jadi kelompok kepentingan hanya ingin mempengaruhi pembuatan keputusan
dari luar, sedangkan partai politik dari dalam.
Agregasi kepentingan merupakan cara bagaimana tuntutan-tuntutan yang
dilancarkan oleh kelompok-kelompok yang berbeda, digabungkan menjadi
alternatif-alternatif kebijaksanaan pemerintah.
Agregasi kepentingan dijalankan dalam "sistem politik yang tidak memperbolehkan
persaingan partai secara terbuka, fungsi organisasi itu terjadi di tingkat
atas, mampu dalam birokrasi dan berbagai jabatan militer sesuai kebutuhan dari
rakyat dan konsumen".
Dalam masyarakat demokratis, Partai menawarkan program politik dan menyampaikan
usul-usul pada badan legislatif, dan calon-calon yang diajukan untuk
jabatan-jabatan pemerintahan mengadakan tawar-menawar (bargaining)
pemenuhan kepentingan mereka kalau kelompok kepentingan tersebut mendukung
calon yang diajukan.
Agregasi kepentingan dalam sistem politik di Indonesia berlangsung dalam
diskusi lembaga legislatif. DPR berupaya
merumuskan tuntutan dan kepentingan-kepentingan yang diwakilinya. Semua
tuntutan dan kepentingan seharusnya tercakup dalam usulan kebijaksanaan untuk
selanjutnya ditetapkan sebagai Undang-Undang. Namum penetapan kebijaksanna (UU) bukanlah hak semata-mata pihak
legislatif. DPR bersama Presiden memiliki hak untuk mengesahkan Undang-Undang.
Kedudukan DPR dan Presiden dalam fungsi agregasi kepentingan adalah sama, sebab
kedua lembaga ini berhak untuk menolak Rancangan Undang-Undang (RUU).
Tentu saja akan terjadi persaingan ketat untuk
mengangkat gagasan dan memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya, akan tetapi
dengan adanya prinsip musyawarah dan mufakat (yang dirasa
pasti akan sulit mengingat DPR mewakili KMP sebagai oposisi pemerintah, dan
Presiden mewakili KIH sebagai pemegang kekuasaan di kabinet Indonesia) sangat banyak membantu persaingan antara wakil partai
dalam agregasi kepentingan.
Analisis Hancurnya Suatu Bangsa
Sistem dan gejala Politik di bangsa Indonesia
“kiwari” mutlak bukan hanya salah para penguasa. Ada keterkaitan yang begitu
mendalam, antara religiutas masyarakat yang memudar hingga hilangnya keimanan
dan ketakutan akan siksa/adzab Nya, mendewakan harta dan menghalalkan segala
cara untuk mendapatkan kekuasaan (machiavellis). Analisis al Qur’an tentang
hancurnya suatu bangsa terikat dengan beberapa aspek. Diantaranya ; Pertama,
Dominasi Hedonisme[14]
dalam tatanan sosial kemasyarakatan (Lihat: al Qur’an surat At Taubah : 24) Kedua,
Para elite (penguasa) yang tidak amanah (Lihat : Shahih Bukhari, Kitabul
Ilmi hadis 1). Akan tetapi dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran
peradaban atau bangsa, adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlaq. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
” Apabila umatku sudah
mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam.”.
Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka
secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah
SWT. Story umat terdahulu yang hancur peradabannya berserak dalam al
Qur’an dan menjadi tadzkirah bagi kita semua (Lihat: an Nahl : 36).
Membangun
Masa Depan Islam Indonesia
Selanjutnya,
berbicara tentang bagaimana membangun masa depan Islam Indonesia yang ideal,
yang penting dilakukan adalah bagaimana membenahi kondisi internal ummat Islam
dan lembaga-lembaga yang fundamen dalam membangun pondasi peradaban. (Lembaga
pendidikan, dan lembaga dakwah salah satunya). Dari perguruan tinggi Islam
misalnya ; diharapkan akan lahir mahasiswa
Islam yang dapat menjadi kader ummat yang mencintai ilmu (ilmiah), Ibaadurahmaan,
(religius), progressif profesional dan zuhud. Menyebar ke berbagai sub tatanan
masyarakat : sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb.
Pakar
sejarah Arnold Toynbee, juga menemukan bahwa antara kematian dan kebangkitan
satu peradaban baru, ada kelompok yang disebut sebagai creative minorities.
Kelompok ini memiliki kemapanan spritual yang mendalam atau motivasi agama
(religious motivation), bekerja keras untuk melahirkan satu peradaban baru dari
reruntuhan peradaban lama. Jika kaum Muslim Indonesia mampu mewujudkan creative
minorities, maka ada harapan besar untuk membawa ummat Islam dan juga negara
Indonesia ke tahap yang lebih gemilang di masa depan.[15]
Creative
minorities adalah mereka yang mengambil “bagian” dari potongan-potongan tugas
yang diemban mahasiswa sebagai Agent of Change di masyarakat. Pembagian
tugas ini jelas harus ada, dan jika mahasiswa Islam yang hendak bertugas membangun
peradaban masa depan yang gemilang. Terhipnotis godaan duniawi sesaat, maka
berpalinglah arah gerakan kader dari esensi perjuangan hakiki.
Sekali lagi,
masa depan Islam di Indonesia akan sangat tergantung pada kualitas perjuangan
umat Islam itu sendiri. Peradaban Islam akan terwujud jika kaum Muslimin bersungguh-sungguh
menekuni berbagai bidang dan mengambil tugas masing-masing. Mahasiswa Islam
contohnya membina diri sebagai Creative Minorities, dalam ranah politik ;
partai-partai Islam dan politisi Muslim
memiliki etik moral yang tinggi, menjadi teladan dalam pemikiran dan perilaku.
Dalam ranah ekonomi, lembaga dan pelaku ekonomi syariah benar-benar menjadikan
iman, ilmu, dan ketakwaan sebagai landasan perekonomian, bukan pragmatisme
ekonomi. Sesungguhnya Islam itu ya’lu (tinggi) dan rahmat bagi seluruh alam.
Siapa yang meragukan?
Wawlaahu
a’laam bi shawaab.
[1] Prof Wan Mohd. Nor Wan Daud, Filsafat
dan Praktik Pendidikan Syed M Naquib Al Attas., terj Hamid Fahmy Zarkasy
dkk. (Bandung : Mizan). hlm.65.
[2] Prof Syed Muhammad Naquib Al
Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, terj.Haidar Bagir (Bandung :
Penerbit Mizan, 1990) hlm.53
[3] Syed Naquib al Attas seringkali
mendengungkan istilah “Adab” dengan definisi : Tindakan yang benar terhadap
segala hal dengan landasan Ilmu. Orang beradab mengetahui bahwa berbohong itu
salah maka ia meninggalkannya ; orang yang beradab mengetahui bahwa berprilaku
“korupsi” itu perbuatan nista maka dia meninggalkannya. Dapat kita cermati,
bahwa realitas yang terjadi kini masyarakat (termasuk para pejabat publik, para
pemimpin di parlemen, dan di setiap lini masyarakat) ketidak tahuan atau
ketidak mau tahuan akan sesuatu agar dapat bertindak “benar”menyebabkan
ketiadaan adab (The Lost of Adab). (Lihat, Prof Syed Muhammad Naquib Al
Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, ibid.hlm.452).
[4] Lihat, Abu Abdullah al Hakim, al
Mustadrak ala Shahihain, (Beirut ; Dar el Kotob Ilmiyyah, 1990).no.hadis.4698
juz.3 hlm.156, lihat juga; Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178, Syadzaraat
Adz Dzahab 1/51.
[5] KH Shiddiq Amien, “ISLAM’
dari Akidah hingga Peradaban,”( Jakarta :Penerbit Suluk, 2010) hlm.45. Lihat
juga QS.Al An’aam : 129, yang artinya : “Dan
demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman
bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. “
[6]Peranan Mahasiswa di era Soekarno
di masa pra-kemerdekaan, dan setelah kemerdekaan (mahasiswa yang berhasil
mengusir penjajah dengan berdiplomasi di meja perundingan), di era Soeharto
1960-an (era Soe Hok Gie) s.d 1998 mahasiswa berhasil menggulingkan rezim
Soeharto (Orde Lama-Orde Baru) sampai di
era Reformasi. Saat ini, atmosfer untuk menggulingkan pemerintahan pak Jokowi
sedang dibangun dengan aksi mahasiswa di beberapa daerah maupun nasional.
[7] Upaya rezim yang kini berkuasa
salah satunya memback up media untuk tidak mempublikasi demo mahasiswa
menentang Jokowi-JK. Sebagaimana dilansir milis-milis di internet, media social
seakan mengungkap “dosa besar” rezim Jokowi agar masyarakat buta terhadap
perkembangan pemerintahan yang semakin jelas kebingungan nya memimpin rakyat Indonesia.
Sebagaimana diungkap oleh Arbi Muslim aktivis ITB tahun 80’an, “Jika aksi
mahasiswa IPB pada kamis (19/3/2015) tidak di ekspos media mainstream berarti
isu yang berkembang ada pengusaha yang melakukan pembungkaman media terhadap
aksi penurunan Jokowi-JK benar adanya dan merupakan sebuah tindak kejahatan
pers”. Lanjutnya,”Berarti pers telah menjadi salah satu instrumen Kapitalis
yang membungkam suara-suara Rakyat”.Lihat selengkapnya di; www.kompasislam.com,
fenomena ini seperti halnya yang terjadi pada “Arab Spring” dimana peran media
sosial, internet mampu menumbangkan rezim-rezim otoriter yang berkuasa.
[8] Sebagaimana paparan, Tatang
Muttaqin dalam Komunikasi Politik (1) Pentingnya opini publik karena
adanya perubahan yang cepat dalam konteks global sehingga pembentukan suatu
opini dalam politik menjadi penting (2) Pembentukan opini publik terkait dengan
sensor dan privasi ; kontak dan kesempatan ; waktu dan perhatian ; kecepatan,
kata-kata, dan kejelasan makna. Signifikansi pembentukan opini publik juga
terkait dengan : (1) Stereotip yang merupakan strategi pembelan diri (2)
Penggalangan kepentingan (3) Perekayasaan kehendak bersama sehingga kehendak
sebagian dalam hal ini pemimpin, bisa menjadi “kehendak bersama” (4) Pencitraan
sebagai orang yang demokratis yang menekankan pada pentingnya penghargaan
individual (egosentris) sehingga terbentuk masyarakat mandiri. Pembentukan
opini publik membutuhkan dukungan media di dalamnya dikupas “konsep publik yang
membeli”, pembaca tetap, hakikat berita, pertautan berita,
kebenaran-kesimpulan. Disamping mengoptimalkan media massa, pembentukan opini
juga dilakukan melalui ”pengaturan intelijen’ untuk mengorek, menyusup,
memecah-belah.
[9] Alam Permana, “Mahasiswa;
Identitas Politic Kaum Intelektual”,dalam Buletin RADIKAL edisi.04-Desember
2014.hlm.17.
[10]M Hatta “Tanggung
Jawab Kaum Intelegensia” dalam Aswab Mahasin – Ismed Narsir (Peny.), Cendikiawan
dan Politik, (Jakarta:LP3ES, 1984), hal.3
[11]Dilihat dari perspektif sistem
kehidupan politik bisa dilihat dari berbagai sudut, misalnya pendekatan
institusional dengan menekankan kelembagaan sehingga terpetakan pola dan
struktur hubungan antara berbagai lembaga atau institusi pembentuk sistem politik.
Hubungan antara berbagai institusi negara sebagai pusat kekuatan politik
misalnya merupakan satu aspek, sedangkan peranan partai politik dan
kelompok-kelompok penekan merupakan bagian lain dari satu sitem politik. Dengan
mengubah sudut pandang maka sistem politik bisa dilihat sebagai kebudayaan
politik, lembaga-lembaga politik, dan perilaku politik. (Lihat : Komunikasi
Politik, Tatang Muttaqin, Bappenas.go.id).
Kenyataan yang terjadi rezim
Jokowi saat ini, saat model sistem politik yang paling sederhana akan
menguraikan masukan (input) kedalam sistem politik, yang mengubah melalui
proses politik menjadi keluaran (output). Dalam model ini masukan biasanya
dikaitkan dengan dukungan maupun tuntutan yang harus diolah oleh sistem politik
lewat berbagai keputusan dan pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintahan
untuk bisa menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat. Dalam perspektif ini, maka
efektifitas sistem politik “ seharusnya” adalah kemampuannya untuk menciptakan
kesejahteraan bagi rakyat. Program yang digulirkan pemerintah pun (KIS,KIP,
BPJS, dsb) adalah program kepemimpinan periode sebelumnya yang sempat diniatkan
namun baru sekarang terealisasikan terlepas berbagai polemik didalamnya
[15] Adian Husaini,dalam sebuah
artikel “Indonesia Masa Depan: Perspektif Peradaban Islam” (Hamid Fahmi
Zarkasy dkk, “Membangun Peradaban dengan Ilmu” (Depok : KALAM
UI,thn.2010) hlm.64
Jumat, 29 Mei 2015
Konsep Manusia Perspektif Islam
Oleh :
Bidang Sosial Ekonomi Pimpinan Daerah HIMA PERSIS Garut
(Ismail Wafa Amarullah)
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di muka
bumi ini.[1]
Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah oleh Allah di muka bumi[2]
karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan. Selain itu, seiring
perkembangan zaman,teori-teori tentang konsep manusiapun hadir dari berbagai
sumber serta para ilmuan yang mempelajari tentang konsep manusia itu sendiri.
oleh karena itu dalam perkembangannya, maka hadirlah istilah-istilah Manusia
sebagai system, adaptif, serta holistic dan berbagi istilah-istilah yang
lainnya oleh karena itu penulis membagi dua, atas penjelasan konsep manusia.
Yaitu ditinjau dari segi pemahan islam dan para ahli psikologi.
Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena
selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas.
Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak
pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.[3]
Sikap seseorang biasanya ikut dipengaruhi oleh bagaimana
pandangannya terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Seseorang yang memandang
dirinya sebagai yang berkuasa dan orang lain sebagai yang dikuasai cenderung
bersikap otoriter. Pandangan evolusionisme biologis tentang manusia, bahwa
manusia adalah binatang mamalia yang cerdas, berbeda sekali dengan pandangan
spiritualisme Hindu, bahwa hakekat manusia adalah roh (atman)nya. Kalau
pendidikan atau pembangunan suatu masyarakat di dasarkan kepada pandangan
pertama, yang akan di perhatikan adalah pendidikan, jasmani, dan penalaran.
Kalau pendidikan dan pembangunan itu di dasarkan kepada pandangan
spiritualisme, yang akan diperhatikan tentu hanya pendidikan kerohanian.
Demikianlah seterusnya, perbedaan sikap, orientasi pendidikan dan pembangunan
pada hakekatnya kelanjutan dari bagaimana pandangan yang melaksanakannya
terhadap manusia. Islam juga mengajarkan pandangan tertentu tentang manusia.
Sebelum pandangan Islam ini diuraikan, terlebih dahulu ada baiknya difahami
dulu perbedaan dan kelebihan manusia di banding dengan makhluk lainnya.[4]
1.
Manusia
menurut Islam
Dalam al-Qur’an ada beberapa kata untuk merujuk kepada arti manusia
yaitu insan, basyar dan bani Adam. Kata basyar terambil dari akar kata yang
pada mulanya berarti “penampakan sesuatu yang baik dan indah”. Dari akar kata
yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia disebut basyar karena
kulitnya tampak jelas. Dan berbeda jauh dari kulit hewan yang lain. Al-Qur’an
menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam
bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriyah serta
persamaanya dengan manusia seluruhnya, karena Nabi Muhammad SAW diperintahkan
untuk menyampaikan seperti yang terungkap pada al-Qur’an.
“Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang di beri wahyu” (Q.S.
Al-Kahfi, 18 : 110)
Dari sisi lain dapat diamati bahwa banyak ayat-ayat al-Qur’an yang
menggunakan kata basyar dengan mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia
sebagai basyar melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan. Misalnya
Allah berfirman yang artinya sebagai berikut:
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya (Allah) menciptakan kamu
dari sel, kemudian kamu menjadi basyar, kamu bertebaran” (Q.S. Ar- Rum, 30 :
20).
Bertebaran disini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan
seks atau bertebaran karena mencari rizki kedua hal tersebut tidak dilakukan
oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab.
Karena itu Siti Maryam as, mengungkapkan keherananya manakala akan dapat anak
padahal ia tidak pernah disentuh oleh basyar (manusia) yang menggaulinya dengan
berhubungan seks. (Qs Ali Imron, 3 : 47). Begitulah terlihat, penggunaan kata
basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya
mampu memikul suatu tanggung jawab (amanat). Dan karena itu pula, tugas
khalifah di bebankan kepada basyar (Qs Al Hajr 15 : 28 yang menggunakan
basyar).
Sedangkan kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti
jinak, harmonis dan tampak. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandang
al-Qur’an lebih tepat dibanding dengan yang berpendapat bahwa kata insan
terambil dari kata nasiya (lupa, lalai) atau nasa-yanusu (terguncang). Kata
insan digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh
totalitasnya. Jiwa dan raga, psikis dan fisik, manusia yang berbeda antara
seseorang dengan yang lainnya, adalah akibat perbedaan fisik, psikis (mental)
dan kecerdasan.
Yang jelas sekali kita dapat melihat bahwa al-Qur’an menyebutkan
jiwa manusia sebagai suatu sumber khas pengetahuan. Menurut al-Qur’an seluruh
alam raya ini merupakan manifestasi Allah, di dalamnya terdapat tanda-tanda
serta berbagai bukti untuk mencapai kebenaran. Al-Qur’an mendefinisikan dunia
eksternal sebagai al-ayat dan dunia internal sebagai jiw, dan dengan cara ini
mengingat kita akan pentingnya jiwa manusia itu ungkapan tanda-tanda dan
jiwa-jiwa yang terdapat dalam kepustakaan Islam bersumber dari pertanyaan
sebagai berikut :
“Aku akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Ku dari
yang terbentang di horison ini dan dari jiwa mereka sendiri, sehingga tahulah
mereka akan kebenaran itu”. (Q.S Fushilat, 41 : 53)
Dalam al-Qur’an, manusia berulangkali diangkat derajatnya karena
aktualisasi jiwanya secara positif, sebaliknya berulangkali pula manusia
direndahkan karena aktualisasi jiwa yang negatif. Mereka dinobatkan jauh mengungguli
alam surgawi, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama, mereka
bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan makhluk hewani. Manusia dihargai
sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot
menjadi “yang paling rendah dari segala yang rendah” juga karena jiwanya.[5]
2.
Manusia
menurut Psikologi
Manusia sejak semula ada dalam suatu kebersamaan, ia senantiasa
berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah kebersamaan, persahabatan,
lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan bentuk-bentuk relasi
sosial lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaan sudah pasti ia mendapat
pengaruh lingkungannya, tetapi sebaliknya ia pun dapat mempengaruhi dan memberi
corak kepada lingkungan sekitarnya. Manusia dilengkapi antara lain cipta, rasa,
karsa, norma, cita-cita dan nurani sebagai karakteristik kemanusiaannya,
kepadanya diturunkan pula agama agar selain ada relasi dengan sesamanya, juga
ada hubungan degan sang pencipta.[6]
Manusia di bagi atas tiga bagian, diantaranya :
Manusia sebagai system
Manusia sebagai system artinya manusia terdiri dari beberapa unsur.
System yang membentuk suatu totalitas,yakni system adaptif, sis.personal,
sis.interpersonal dan sis.sosial
Manusia sebagai adaftip
Manusia sebagai mahkluk holistik
a. Manusia menurut psikologi Barat
Bertolak dari pengertian psikologi sebagai ilmu yang menelaah
perilaku manusia, para ahli psikologi umumnya berpandangan bahwa kondisi
ragawi, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan merupakan penentu-penentu
utama perilaku dan corak kepribadian manusia. Determinan tri-dimentional
organo-biologi, psiko-edukasi dan sosiokultural in dapat dikatakan dianut oleh
semua ahli di dunia psikologi dan psikiatri. Dalam hal ini untuk ruhani sama
sekali tak masuk hitungan, karena dianggap termasuk dimensi kejiwaan dan
merupakan penghayatan subjektif semata-mata.
Selain itu psikologi, apapun alirannya menunjukkan bahwa filsafat
manusia yang mendasarinya bercorak anthroposentrisme yang menempatkan manusia
sebagai pusat dari segala pengalaman dan relasi-relasinya serta penentu utama
segala peristiwa yang menyangkut masalah manusia dan kemanusiaan. Pandangan ini
menyangkut derajat manusia ke tempat teramat tinggi, ia seakan-akan prima causa
yang unik. Pemilik akal budi yang sangat hebat, serta memiliki pula kebebasan
penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan sesuai baginya.
Sampai dengan penghujung abad XX ini terdapat empat aliran besar
psikologi :
- Psikoanalisis (psychoanalysis)
- Psikologi perilaku (behavior psychology)
- Psikologi humanistik (humanistic psychology)
- Psikologi transpersonal (transpersonal psychology)
Masing-masing aliran meninjau manusia dari sudut pandang berlainan
dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas
tentang kehidupan manusia, kemudian membangun teori dan filsafat mengenai
manusia.[7]
Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari 3 kategori : aspek
biologis (struktur ID), psikologis (struktur ego), dan sosiologis (struktur
super ego). Dengan pembagian 3 aspek ini maka tingkatan tertinggi kepribadian
manusia adalah moralitas dan sosialitas, dan tidak menyentuh pada aspek
keagamaan, lebih lanjut Freud menyatakan bahwa tingkatan moralitas digambarkan
sebagai tingkah laku yang irasional, sebab tingkah laku hanya mengutamakan nilai-nilai
luas, bukan nilai-nilai yang berada dalam kesadaran manusia sendiri.[8]
Teori Freud ini banyak mendapat kecaman dari psikolog lain, Paul
Riccoeur misalnya menyatakan bahwa teori Freud telah memperkuat pendapat
orang-orang atheis, tetapi ia belum mampu menyakinkan atau membersihkan imam
orang-orang yang beragama.
Psikolog lain yang membantah teori Freud adalah Allport, menurutnya
pemeluk agama yang sholeh justru mampu mengintegrasikan jiwanya dan mereka
tidak pernah mengalami hambatan-hambatan hidup secara serius. Ringkasnya perlu
adanya aspek agama dalam memahami kepribadian manusia.[9]
b. Manusia menurut psikologi Islam
Sebagaimana diterangkan di atas, bahwa teori Freud tentang
kepribadian manusia mendapat kecaman, maka ditawarkanlah manusia dalam
perspektif psikologi Islam.
Penentuan struktur kepribadian tidak dapat terlepas dari pembahasan
substansi manusia, sebab dengan pembahasan substansi tersebut dapat diketahui
hakikat dan dinamika prosesnya. Pada umumnya para ahli membagi subtansi manusia
atas jasad dan ruh, tanpa memasukkan nafs. Masing-masing aspek yang berlawanan
ini pada prinsipnya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh merupakan substansi
yang mati, sedang ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi, karena saling
membutuhkan maka diperlukan perantara yang dapat menampung kedua naluri yang
berlawanan, yang dalam terminologi psikologi Islam disebut dengan nafs.
Pembagian substansi tersebut seiring dengan pendapat Khair al-Din al-Zarkaly
yang di rujuk dari konsep Ikhwan al-Shafa.
1) Substansi jasmani
Jasad adalah substansi manusia yang terdiri atas struktur organisme
fisik. Organisme fisik manusia lebih sempurna di banding dengan organisme fisik
makhluk-makhluk lain. Setiap makhluk biotik lahiriyah memiliki unsur material
yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air.[10]
Jisim manusia memiliki natur tersendiri. Al-Farabi menyatakan bahwa
komponen ini dari alam ciptaan, yang memiliki bentuk, rupa, berkualitas,
berkadar, bergerak dan diam serta berjasad yang terdiri dari beberapa organ.
Begitu juga al-Ghazali memberikan sifat komponen ini dengan dapat bergerak,
memiliki ras, berwatak gelap dan kasar,
dan tidak berbeda dengan benda-benda lain. Sementara Ibnu Rusyd berpendapat
bahwa komponen jasad merupakan komponen materi, sedang menurut Ibnu Maskawaih
bahwa badan sifatnya material, Ia hanya dapat menangkap yang abstrak. Jika
telah menangkap satu bentuk kemudian perhatiannya berpindah pada bentuk yang
lain maka bentuk pertama itu lenyap.[11]
2) Substansi rohani
Ruh merupakan substansi psikis manusia yang menjadi esensi
kehidupannya. Sebagian ahli menyebut ruh sebagai badan halus (jism latief), ada
yang substansi sederhana (jaubar basiib), dan ada juga substansi ruhani (jaubar
ruhani). Ruh yang menjadi pembeda antara esensi manusia dengan esensi makhluk
lain. Ruh berbeda dengan spirit dalam terminologi psikologi, sebab term ruh
memiliki arti jaubar (subtance) sedang spirit lebih bersifat aradh (accident).
Ruh adalah substansi yang memiliki natur tersendiri. Menurut Ibnu
Sina, ruh adalah kesempurnaan awal jisim alami manusia yang tinggi yang
memiliki kehidupan dengan daya. Sedang bagi al-Farabi, ruh berasal dari alam
perintah (amar) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad.[12]
Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauzy menyatakan pendapatnya bahwa, roh merupakan
jisim nurani yang tinggi, hidup bergerak menembusi anggota-anggota tubuh dan
menjalar di dalam diri manusia. Menurut Imam al-Ghazaly berpendapat bahwa roh
itu mempunyai dua pengertian : roh jasmaniah dan roh rihaniah. Roh jasmaniah
ialah zat halus yang berpusat diruangan hati (jantung) serta menjalar pada
semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut ke seluruh tubuh, karenanya manusia
bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa
berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh
rohaniah adalah bagian dari yang ghaib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal
dirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain
(kepribadiam, ber-ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas
segala tingkah lakunya.
Prof. Dr. Syekh Mahmoud Syaltout mengatakan bahwa roh itu memang
sesuatu yang ghaib dan belum dibukakan oleh Allah bagi manusia, akan tetapi
pintu penyelidikan tentang hal-hal yang ghaib masih terbuka karena tidak ada
nash agama yang menutup kemungkinannya.[13]
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan terdapat poin-poin
penting, yaitu :
1.
Manusia
terdiri dari 2 substansi yaitu substansi jasad dan substansi roh
2.
Manusia
adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi.
3.
Hakikat
psikologi Islam dapat dirumuskan yaitu kajian Islam yang berhubungan dengan
aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia agar secara sadar ia dapat membentuk
kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia
dan akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
dan Terjemahnya, Depag RI
Dr.
Rifaat Syauqi Nawawi, MA., dkk., Metodologi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2000.
Bustanuddin
Agus, al-Islam, PT. Raja Grafindo persada, Jakarta, 1993.
Hanna
Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1995.
Abdul
Mujib, M.Ag, dan Yusuf Muzakir, M.Si., Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Jamaluddin
Kafie, Psikologi Dakwah, Offset Indah, Surabaya, 1993.
[1] Q.S. 95 : 4
[2] Q.S. 2 : 30
[3] Rifaat Syauqi
Nawawi, MA., dkk., Metodologi Psikologi Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
2000, hal. 3
[5] Rifaat Syauqi
Nawawi, MA., dkk., op.cit., hal. 5-7
[6] Hanna Djumhana
Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995,
hal. 48
[7] Ibid., hal. 49
[8] Abdul Mujib,
M.Ag, dan Yusuf Muzakir, M.Si., Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal. 70
[9] Ibid., hal. 71
[10] Ibid., hal.
38-40
[11] Ibid., hal. 41
[12] Ibid., hal.
41-42
Langganan:
Postingan (Atom)


