Tampilkan postingan dengan label IPP GARUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPP GARUT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

MOBIL DINAS 3.6 MILIAR, JEMBATAN RUSAK DAN KELAPARAN DIBIARKAN!


Memasuki bulan kedua di tahun 2012, kondisi masyarakat di Garut semakin memperihatinkan. Berita tentang Garut, dalam media lokal maupun nasional didominasi berita mengenai kemiskinan, anak kurang gizi, jembatan putus, sekolah roboh, rakyat rawan daya beli dan rawan pangan. Berita-berita itu ibarat parade kemiskinan yang ditatap dan disantap setiap harinya di ruang-ruang publik.
Gayung ternyata tak bersambut, kondisi masyarakat tersebut tidak direspon oleh wakil rakyat di DPRD Garut. Hal ini tercermin dalam penyusunan RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tahun 2012 yang beberapa waktu lalu diparipurnakan. RAPBD Garut yang penyusunannya telat, ternyata sama sekali tidak memprioritaskan kebutuhan rakyat Garut.
Yang paling mencengangkan, dalam anggaran belanja daerah 2012 terdapat anggaran untuk pembelian 16 mobil dinas anggota dewan senilai 3,6 miliar. Pengalokasian dana untuk mobil dinas itu jelas hanya akan dinikmati wakil rakyat saja. Ironis memang, ketika kondisi rakyat yang terbelenggu kemiskinan, tidak dijawab dengan alokasi anggaran yang pro rakyat. Tidak ada alokasi khusus untuk program-program pengentasan kemiskinan atau peningkatan daya beli rakyat. Dibandingkan dengan anggaran kesehatan dan pendidikan, alokasi anggaran untuk pembelian mobil dinas ini jelas tidak berimbang.
Rakyat Garut patut mempertanyakan, apakah wakil rakyat di DRPD benar-benar mewakili aspirasi rakyat? Atau hanya memperdulikan kepentingannya saja. Beginilah, jika wakil rakyat sudah tidak menggunakan hati nurani dalam menjalankan tugasnya. Sehingga, kebijakan apapun, termasuk anggaran tidak mengukur perasaan rakyat. Sungguh disayangkan, anggota dewan sebagai produk dari demokrasi yang dipilih langsung oleh rakyat, ternyata tidak mempunyai itikad politik menyejahterakan rakyat sebagai konstituennya.
Selanjutnya perlu langkah-langkah strategis yang pro rakyat dalam menyikapi hal ini. satu-satunya langkah strategis itu adalah membatalkan pengalokasian anggaran 16 mobil dinas tersebut. Jauh lebih baik, dana 3,6 miliar tersebut dialokasikan untuk memberdayakan ekonomi rakyat Garut yang memperihatinkan, membantu penguatan daya beli masyarakat yang rawan pangan seperti masyarakat yang makan pisang dan gadung di Cibalong. Atau dialokasikan saja untuk memperbaiki infrastruktur vital seperti jembatan-jembatan yang rusak.
Jika alokasi anggaran untuk mobil dinas tersebut direalisasikan, maka itulah bentuk penghianatan dewan terhadap rakyat. Padahal, kendaraan dinas yang ada masih bisa digunakan. Jika ada kerusakan maka memperbaikinya jauh lebih menghemat anggaran. Namun jika tetap saja anggaran ini direalisasikan, apakah pantas dewan legislatif disebut sebagai wakil rakyat dan eksekutif disebut pemimpin rakyat?!
(MRA)

Jumat, 13 Januari 2012

Harapan Ust. Adian Husaini Untuk Persis Garut II (ternyata bukan hanya untuk Garut)

Oleh Ipp Region Garut 

Pada kesempatan sebelum-nya kita telah membawakan satu tulisan karya Adian Husaini yang memberikan pandangan atas pemikiran-nya tentang Generasi Muda. Dan sudah menjadi kebutuhan bagi seorang Intelektual atau setidaknya Calon Intelektual dalam mengkaji pemikiran seseorang terhadap relevansi kepada realitas.

Maka kali ini, yang akan di sampaikan adalah seputar hal dilematis bagi generasi muda dalam menentukan pilihan bersikap guna merespon isu di dunia pendidikan khususnya. Dimana terjadi pengeliruan dan aksi sekularisasi pendidikan yang justru melahirkan SDM yang walaupun Kece tapi tetap saja Memble.

Pendidikan Karakter ? (tafaqquh fid din tepat-nya !)

sebelum kita bicara lebih dalam tentang pendidikan karakter, maka sebaiknya kita Indahkan terlebih dahulu dengan mengetahui seperti apa tujuan pendidikan?. dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 diredaksikan bahwa ”pendidikan dirumuskan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang”. Inilah pengertian secara umum pendidikan di Indonesia, dimana di arahkan pada persiapan para Rijaalul ghad dan Ummahatul Ghad (penerus hari esok) demi keberlangsungan masa depan yang lebih baik.

Pemerintah akhir akhir ini sedang gencar melakukan sosialisasi terkait pemahaman masyarakat dalam mengiplementasikan Konsep pendidikan karakter. Dimana harapannya adalah terjadi peningkatan Akhlak sebagai Orientasi dalam kajian keilmuan, inilah sebenar-nya yang juga di terapkan pada dunia pendidikan Islam dengan Visi-nya yaitu melahirkan generasi tafaqquh fid din.

Satu konsep sederhana yang paling saya sukai adalah, dalam mencari hakikat pemahaman akan sesuatu, didasarkan pada tiga analisis yaitu : yang baik seperti apa, yang buruk seperti apa, dan yang terjadi seperti apa, sehingga yang akan muncul adalah pemahaman yang secara menyeluruh dan mendasar tetapi tetap pada koridor kekinian. Maka tidak salah apabila kita menyadari bahwa kondisi pendidikan saat ini sedang ada pada posisi terancam. Seperti yang di katakan A husaini pada Artikel sebelumnya :

”Metode studi Islam dirusak dengan mengadopsi metode Orientalis Barat yang tidak menjadikan asas kebenaran dan keimanan Islam sebagai pijakan dan tujuan dalam studi agama. Kaum orientalis non-Muslim memang mempelajari Islam bukan untuk beriman kepada Islam, bukan untuk meyakini kebenaran Islam, dan bukan untuk mengamalkan ajaran Islam. Ini harusnya berbeda dengan tujuan dan fungsi ilmu dalam Islam, yang harus membawa kepada ketaqwaan dan kedekatan kepada Allah”

Usaha usaha sekularisasi yang dapat kita temukan di berbagai ranah pendidikan dewasa ini semakin meng-Hegemoni paradigma pelaku pendidikan yang malah ikut beriman pada Westernisasi.

Pertanyaan-nya sekarang adalah, apakah Pendidikan Karekter ini akan mampu menjawab semua tantangan Islam dalam menghasilkan SDM yang baik ? lalu bagaimana dengan Sekularisasi pendidikan yang memperkeruh keadaan ketika suatu peradaban membutuhkan Regenerasi ?.

Pendidikan karakter ini sebenar-nya sudah merupakan bagian dari kehidupan kita sehari hari, coba kita tengok Teks Visi Misi di setiap Pesantren, khusus-nya pesantren Persis maka akan di temukan Visi yang senada yaitu ”menghadirkan Generasi tafaqquh fid din”. Namun demikian, bukan berarti selamanya akan berlangsung tanpa badai, seperti yang di tercantum dalam tulisan sebelumnya :

” Pada satu sisi, pesantren berkeinginan mempertahankan jati dirinya sebagai lembaga perkaderan ulama yang menekankan kegiatan ‘tafaqquh fid din”. Tetapi, pada sisi lain, tekanan-tekanan situasi dan birokrasi menyebabkan pesantren harus berkompromi dengan sistem pendidikan yang tidak mengarahkan pada tafaqquh fid-din. ”

Pernyataan tersebut datang dari seorang pimpinan pesantren yang menggambarkan bahwa kondisi Pendidikan saat ini mengharuskan Toleransi akan Nilai nilai yang diharapkan terhadap tuntutan keadaan. Sungguh, merupakan satu Ironi, ketika Konsep Pendidikan Islam ini telah menjadi objek para sekularis dalam menyimpangkan Hakikat Pendidikan itu sendiri. Ketidakberpihakan Sistem pada Nilai Nilai Islam adalah usaha yang dilakukan untuk menyimpangkan Nilai Islam melalui Birokrasi yang sudah di cengkram oleh sekularis bahkan sampai Kapitalis.

Selanjutnya, setelah kita sedikit mengetahui yang salah itu seperti apa, dan yang terjadi seperti apa, maka kini saat-nya menjawab pertanyaan ”lalu yang benar seperti apa ?”

Pendidikan Karakter (lagu lama yang dinyanyikan kembali)

sangat menggelikan rasa-nya ketika mendengar Opini bahwa pendidikan karakter adalah dari Barat, bahkan ada yang berceloteh itu adalah hasil Budaya Yahudi. Di atas, tadi sudah diberikan pandangan bahwa pendidikan karakter adalah tafaqquh fid din, yang kini justru di Klaim milik Luar. Menarik bila mengutip pernyataan Dr Yusuf Qardhawi dalam karya-nya Fiqh Prioritas :

”Sesungguhnya Ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuan yang mampu membedakan antara yang Haq dan yang Bathil dalam keyakinan, antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka, antara perbuatan perbuatan yang sisunatkan dan yang bid’ah dalam Ibadah, antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah, antara tindakan yang halal dan tindakan yang haram, antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia, antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak, antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan tidak dapat diterima.”

Apabila di pahami dari sudut pandang Islam yang Rahmatan Lil Alamin, maka pendekatan Akhlak Islam itu sudah lebih senior ketimbang Brand Brand Pendidikan Karakter yang sedang hangat di bicarakan. Bahkan Rasulullah saw juga melakukan hal yang menanamkan Akhlak terpuji pada diri-nya sendiri terlebih dahulu, yang nanti-nya akan menjadi panutan. Maka kata kunci-nya sekarang, pendidikan itu untuk Ilmu, dan karakter itu untuk Akhlak, yang di Propagandakan dengan sebutan Ilmiah Educatioan Of character atau Educationally Value.

Dan akan lebih panjang lagi pembahasan ketika mengungkap lebih lanjut seputar pendidikan karakter dari sudut pandang Metodik atau Penerapan-nya, tetapi Urgensi untuk saat ini adalah bagaimana kita sebagai Generasi Pelaku Pendidikan dalam menyikapi situasi dan Kondisi pendidikan, yang semakin hari semakin gencar saja Usaha penghapusan Nilai Nilai Islam yang ada di dalam-nya.

Inilah tugas bagi Para Aktivis dalam rangka melakukan perubahan dalam berbagai perkara yang terjadi di sekitar-nya. Keberadaan kita selaku Intelektual atau sekali lagi Calon Intelektual jangan hanya menyibukan diri dengan urusan yang bersifat minim manfaat, karena ternyata tantangan jaman itu bukan hanya bisa terselesaikan oleh keberanian tapi juga di harus ada persiapan yang matang baik secara keilmuan, Akhlak, kapasitas pergerakan dan hal hal yang dirasa dibutuhkan; sebagai ajang pengumpulan tenaga dalam menghadirkan peradaban yang tebih baik.

Semoga bermanfaat !

F.G

Harapan Ust Adian Husaini Untuk Persis Garut

Oleh Ipp Region Garut 

Kemarin malam, saya merasa sangat khawatir dengan masa depan IP-Persis di Garut, kita belum memiliki forming of cadres (kaderisasi) yang baik, Kondisi internal dan eksternal yang masih harus banyak mendapat pembinaan, Dll



Tetapi di malam yang Galau itu, saya mencoba mengobrak abrik file file di Komputer Warisan ini; ternyata ada satu file HTML yang bertajuk “Kumpulan Tulisan Adian Husaini”, setelah saya buka, ada Puluhan artikel yang sangat menarik sekali untuk saya cermati. Dari seluruh Artikel tersebut, terdapat satu judul yang sangat nyambung dengan Ke-galauan saya malam itu : “Harapan Untuk Garut”.



Selebih-nya, untuk lebih menjaga ke-orsinilan dari Artikel tersebut, dalam Note ini akan Copas secara keseluruhan tanpa ada yang di kurangi atau di tambahkan.



Semoga dapat menghapuskan setiap kegalauan ! semoga dapat mencerahkan !



HARAPAN UNTUK GARUT

Oleh: Adian Husaini

Pada tanggal 3-5 Juli 2006 saya berada di Kota Garut, sebuah kota yang indah di Propinsi Jawa Barat. Kota yang terkenal dengan ‘dodolnya’ ini terbilang kaya dengan potensi alam. Sumber daya alam berupa gas, emas, dan air panas banyak ditemukan. Keindahan alamnya juga sangat luar biasa. Akhir-akhir ini kota Garut tercoreng namanya gara-gara skandal Ujian Akhir Nasional yang direkayasa oleh pejabat pemerintah setempat. Kota ini juga dikenal sebagai ‘kota santri’, dengan banyaknya pesantren dan sekolah Islam.

Sayangnya, di tengah kekayaan sumber daya alamnya, Kota Garut dikenal sebagai salah satu dari tiga kota termiskin di Jawa Barat.

Salah satu Ormas Islam yang memiliki basis kuat di kota ini adalah Persatuan Islam (Persis), yang memiliki puluhan pondok pesantren di Garut. Dalam satu acara pelepasan santri Muallimin di Pesantren Bentar, satu pesantren Persis yang tertua di Garut, pada 4 Juli 2006, sang kyai dari pesantren itu menekankan pentingnya para santri untuk tetap memegang teguh ilmu yang sudah dipelajarinya, tetap menghormati para ustad, dan aktif dalam berdakwah Islam.

Ia menceritakan berbagai kondisi sulit yang dihadapi pesantren di tengah tantangan zaman saat ini.

Pada satu sisi, pesantren berkeinginan mempertahankan jati dirinya sebagai lembaga perkaderan ulama yang menekankan kegiatan ‘tafaqquh fid din”. Tetapi, pada sisi lain, tekanan-tekanan situasi dan birokrasi menyebabkan pesantren harus berkompromi dengan sistem pendidikan yang tidak mengarahkan pada tafaqquh fid-din.

Untuk menjembatani hal itu, Pimpinan Daerah Persis Garut telah membangun satu Ma’had ‘Aly, yang mengkader calon-calon dai dan ustad yang benar-benar bersedia mendalami ilmu-ilmu agama (Ulumuddin).

Dalam acara dialog dengan para ustad dan pimpinan pesantren di lingkungan Persis Garut, saya menyampaikan pentingnya kalangan pesantren mempertahankan dan meningkatkan tradisi keilmuan, dengan cara menghargai ilmu dan ulama. Jangan harapkan ulama bisa dihargai jika mereka sendiri tidak menghargai ilmu dan tidak menghormati dirinya sendiri. “Ketua Persis Garut tidak boleh merasa lebih rendah derajatnya dari pada Bupati Garut. Jangan sampai ada pikiran bahwa jika ketua Persis Garut menjadi Bupati Garut, berarti dia naik derajat.’’ Ketua Persis Garut, Ustad Mamat Abdurrahman, memang dikenal gigih dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam di kotanya.

Posisi ulama ini sangat penting untuk ditekankan, sebab tidak sedikit yang berpendapat, bahwa menjadi umara adalah prestasi tertinggi dalam perjuangan dakwah Islam. Ada pendapat bahwa menjadi ketua NU atau Ketua Muhammadiyah lebih rendah derajatnya dibanding menjadi Presiden Indonesia. Menjadi Menteri Agama dipandang lebih tinggi derajatnya ketimbang menjadi ketua Pondok Pesantren.

Tentu saja, pikiran itu tidak benar. Menjadi pemimpin organisasi Islam bukanlah hal yang ringan dan lebih rendah martabatnya ketimbang menjadi menteri atau Presiden sekalipun. Menjadi seorang guru ngaji di TK tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan martabat anggota DPR atau DPRD.

Martabat ulama inilah yang seharusnya dijaga dan dipelihara oleh kaum Muslim. Menjadi umara yang baik adalah satu kewajiban. Tetapi menjadi ulama yang baik juga satu keharusan. Umara haruslah seorang yang berilmu dan beramal shalih. Tetapi, menjadi ulama lebih-lebih lagi dituntut berilmu dan beramal shalih.

Ulama adalah pewaris nabi. Di tangan merekalah kita berharap agama Islam dapat dijaga dan dipertahankan. Di pundak para ulama itulah, terletak amanat perjuangan Islam yang tertinggi. Dengan dukungan umara yang baik, maka perjuangan Islam akan lebih efektif.

Karena itu, pengkhianatan terhadap ilmu dipandang sebagai pengkhianatan yang terbesar dalam pandangan Islam. Dalam bukunya, Ar-Rasul wal-‘Ilm, (Di-Indonesiakan oleh Amir Hamzah Fachrudin dkk., 1994) -- Dr. Yusuf Qaradhawi mengutip satu hadits Rasulullah saw :

‘’Hendaklah kalian saling menasehati dalam ilmu. Sesungguhnya pengkhianatan seseorang terhadap ilmunya lebih berbahaya daripada pengkhianatannya terhadap hartanya. Dan sesungguhnya Allah akan menanyai kalian semua pada hari kiamatnanti.’’ (HR ath-Thabrani).

Menurut Qaradhawi, hadits itu memberi makna, bahwa pengkhianatan terhadap harta – walaupun dalam jumlah yang besar– akibat buruknya terbatas. Lain dengan pengkhianatan terhadap ilmu yang akibatnya akan menghancurkan semua lapisan masyarakat. Istilah Prof. Naquib al-Attas, kerusakan ilmu disebut juga sebagai ‘’corruption of knowledge’’. Korupsi ilmu adalah jauh lebih dahsyat akibatnya dibandingkan dengan korupsi harta.

Kita tahu, bagaimana kerasnya Rasulullah saw dalam menjatuhkan sanksi terhadap pelaku korupsi harta. Beliau saw pernah tidak mau menyalatkan jenazah seorang yang meninggal di medan jihad, gara-gara orang itu berlaku curang dalam soal harta rampasan perang.

Dalam soal ilmu, Islam menerapkan hal yang lebih keras lagi. Pelakunya bisa terkana kategori ‘riddah’ (murtad) dan akan mendapatkan ‘dosa jariyah’ akibat mengajarkan ilmu yang salah atau ilmu yang sesat.

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang di dalam Islam mengerjakan amal yang baik maka dia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sesudahnya, tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang beramal buruk, maka dia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa dikurangi dosanya sedikitpun.” (HR Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad).

Demikianlah peringatan Rasulullah saw. Jadi, kita perlu sangat berhati-hati dalam masalah ilmu. Jika ilmu itu benar, diamalkan, dan diajarkan, maka di pemilik ilmu akan mendapatkan pahala yang ‘jariyah’ (mengalir), meskipun dia sudah meninggal. Sebaliknya, jika ilmunya salah, dan diajarkan kepada banyak orang, maka dia akan mendapatkan dosa yang terus-menerus dari orang yang menerima ilmunya. Karena itulah, kita bisa memahami, bahwa pengkhianatan dalam masalah ilmu adalah lebih besar nilai kejahatannya dibandingkan dengan pengkhianatan masalah harta.

Lembaga Islam, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi Islam –apalagi yang jelas-jelas membawa label Islam dan mengaku lembaga Islam– harusnya memperhatikan peringatan Rasulullah saw dalam masalah ilmu. Lembaga-lembaga itu harus menjadikan masalah ilmu sebagai hal yang mendasar dan mendapatkan prioritas pertama. Tidak boleh bermain-main dan memandang enteng masalah ini.

Ormas-ormas Islam dan partai-partai Islam pun sudah seyogyanya menjadikan masalah ilmu ini sebagai hal yang utama dan pertama. Jangan sampai partai-partai Islam atau Ormas Islamjustru menjadi ujung tombak penyebar ilmu yang salah.

Kepada para pimpinan pesantren di lingkungan Persis Garut, saya menyampaikan harapan itu ; agar pondok pesantren mereka benar-benar menjadi benteng keilmuan Islam yang tangguh, yang melahirkan orang-orang yang alim dan beramal shalih.

Harapan ini sangatlah penting, mengingat saat ini, ada fenomena umum yang menganggap enteng masalah kerusakan ilmu di lingkungan perguruan tinggi Islam. Ilmu perbandingan agama dirusak dengan cara menyebarkan paham relativisme kebenaran dan relativisme iman.

Metode studi Islam dirusak dengan mengadopsi metode orientalis Barat yang tidak menjadikan asas kebenaran dan keimanan Islam sebagai pijakan dan tujuan dalam studi agama.

Kaum orientalis non-Muslim memang mempelajari Islam bukan untuk beriman kepada Islam, bukan untuk meyakini kebenaran Islam, dan bukan untuk mengamalkan ajaran Islam. Ini harusnya berbeda dengan tujuan dan fungsi ilmu dalam Islam, yang harus membawa kepada ketaqwaan dan kedekatan kepada Allah.

Dalam satu diskusi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat, Juni lalu, saya katakan, bahwa saat ini sedang dikembangkan satu metode studi agama yang berpijak pada epistemologi keraguan dan kebingungan, sehingga akan melahirkan para sarjana agama yang bingung alias golongan bingung (golbin).

Akibatnya, banyak yang belajar agama, justru hasilnya tidak meyakini kebenaran agamanya. Sebaliknya, dia malah ragu dengan agamanya sendiri. Tidak heran, jika banyak yang belajar ushuluddin, tetapi malah tidak yakin dengan dasar-dasar agamanya. Banyak yang belajar syariat, tetapi justru bersikap menentang atau tidak bersemangat menerapkan syariat Islam. Banyak yang belajar ilmu dakwah di Fakultas Dakwah, tetapi justru tidak menjalankan aktivitas dakwah.

Tidak sedikit mahasiswa kampus Islam yang secara terus terang menyatakan keraguannya akan kebenaran Islam. Banyak juga yang mengaku tidak bersemangat lagi mengerjakan shalat lima waktu.

Mengapa? Karena semua itu berawal dari niat yang salah dan metode belajar Islam yang salah. Ironisnya, banyak yang kini bangga dalam kesalahan, dan aktif menyebarkan kesalahan.

Salah satu fenomena yang mencolok mata adalah diwajibkannya mata kuliah hermeneutika bagi mahasiswa Tafsir Hadits di berbagai Perguruan Tinggi Islam. Banyak dosen dan ulama yang cuek dan tidak peduli dengan masalah ini. Mungkin karena tidak paham sama sekali tentang masalah hermeneutika ; atau mungkin juga karena setuju dengan gagasan hermeneutika sebagai pengganti ilmu tafsir.

Banyak orang tidak memandang penting kasus dosen IAIN Surabaya yang menginjak lafaz Allah dengan sengaja. Padahal, cara pandang seperti itu – bahwa Al-Quran adalah produk budaya -- sudah dianut oleh banyak dosen UIN/IAIN dan sudah diajarkan kepada ribuan mahasiswa.



Petinggi-petinggi Departemen Agama dan kampus-kampus berlabel Islam masih banyak yang merasa nyaman dan tenang-tenang saja dengan fenomena kerusakan ilmu yang meluas dan berlangsung terus-menerus. Kasus buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Prof.Harun Nasution bisa dilihat sebagai satu contoh.

Buku yang mengandung begitu banyak kekeliruan ini sudah dijadikan bacaan wajib bagi studi Islam di Perguruan Tinggi Islam selama 33 tahun. Bayangkan, selama 33 tahun, ratusan ribu mahasiswa dicekoki dengan ilmu yang keliru tentang Islam. Mereka sekarang ada yang menjadi pejabat pemerintah, profesor, rektor, dekan, guru agama, hakim-hakim agama, dan sebagainya.

Kemungkaran dan pengkhianatan dalam ilmu-ilmu agama inilah yang seyogyanya menjadi prioritas penting dalam program dakwah lembaga-lembaga Islam. Ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan sebagainya, seyogyanya menjadikan masalah ini sebagai program pokok.

Ormas-ormas Islam jangan sampai hanya menyibukkan diri dalam soal-soal pilkada atau merespon isu-isu kontemporer, tanpa menyadari bahaya besar akibat pengkhianatan ilmu.

Kepada para alumni Pesantren Bentar di Garut, saya tunjukkan sejumlah contoh buku-buku yang ditulis akademisi di berbagai kampus berlabel Islam, yang isinya merusak keilmuan Islam. Kita berharap, para alumni pesantren yang akan melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi, dapat membentengi dirinya dari perusakan ilmu yang dilakukan sejumlah dosen, yang sudah tercemar dan rusak pemikirannya. Kita berharap, para alumni pesantren itu tidak mudah tergoda dengan ‘iming-iming duniawi’ yang mungkin ditawarkan jika nanti mereka bersedia menjadi agen penyebar virus ‘sipilis’ (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme) di Indonesia.

Hingga kini, kita belum bisa berbuat banyak. Kita belum punya kampus Islam yang benar-benar ideal, yang mengaplikasikan konsep ilmu dalam Islam secara total.

Kita terpaksa masih melepaskan santri-santri dan anak didik kita ke kampus-kampus yang di sana masih bercokol sejumlah dosen yang mengajarkan pikiran dan amal yang buruk. Ada dosen ushuluddin yang sudah berpuluh tahun menyebarkan paham yang keliru tentang perkawinan antar-agama, dan bahkan menjadi penghulu swasta untuk perkawinan bathil semacam itu.

Ironisnya, selama puluhan tahun itu, pimpinan Departemen Agama dan para petinggi kampus tersebut tetap tenang-tenang saja, membiarkan semua kebejatan itu berlangsung. Kita perlu mengingatkan kepada para dosen dan pejabat yang berwenang itu, bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, tentang apa yang sudah menjadi amanah dan tanggung jawabnya.

Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan bergerak kaki manusia pada Hari Kiamat, sampai mereka ditanyai tentang empat perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa ia gunakan, (2) tentang masa mudanya, untuk apa dia habiskan, (3) tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan untuk apa ia gunakan, (4) tentang ilmunya, apa yang ia amalkan.” (HR Al-Bazzar dan ath-Thabrani).

Waallahu a’lam.

(Jakarta, 7 Juli 2006/hidayatullah.co,).

Selasa, 01 November 2011

Pernyataan Sikap Hima Persis terhadap Penganiayaan Ikbal

  1. Mengutuk tindakan represif dan penganiayaan yang dilakukan oleh Paspampres dalam menangani insiden tersebut dan menuntut aparat penegak hukum untuk menangani masalah tersebut.
  2. Menuntut kepada Komandan Paspampres untuk meminta maaf kepada Organisasi hima Persis dan saudara Ikbal Sabarudin yang telah melakukan penghinaan dan juga pencemaran nama baik. Apabila dalam 2x24 jam tuntutan tersebut tidak direspon, maka kami akan menempuh jalur hukum.
  3. Menuntut Pemerintahan SBY-Boediono untuk serius menangani problem bangsa (pemberantasan korupsi, penegakan hukum, kesejahteraan rakyat, disintegrasi bangsa dll).
  4. Menuntut SBY-Boediono dengan legowo untuk mundur dari jabatannya apabila sudah tidak mampu memimpin bangsa ini.

    HARI SUMPAH SERAPAH INDONESIA


    Stadion Siliwangi, 28 Oktober 2011 saat peringatan hari Sumpah Pemuda ke 83 yang dihadiri Wapres Boedioneo, Menpora Andi, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan serta Pangdam III Siliwangi, Muhammad Munir dan Kapolda Jabar Irjen Putut Eko Bayuseno, dikejutkan oleh aksi seorang mahasiswa yang berlari dari tribun undangangan menuju lapangan serta membentangkan poster karton bertuliskan “Sumpah Serapah 28 Oktober 2011, Mengutuk korupsi para pejabat yang tak amanah, mengutuk presiden dan wapres yang tidak mensejahterakan rakyat”. 

    Mahasiswa yang aktif sebagai ketua Hima Persis Jabar itu pun dikejar-kejar oleh tiga orang sampai tujuh orang paspampres. Dengan beringas dan kasarnya –seperti anjing kelaparan- pasukan paspampres itu melumat Kang Iqbal dengan tendangan dan pukulan. Seolah Kang Iqbal adalah teroris yang membawa bom. 
    Apa yang dilakukan Kang Iqbal tergolong nekat. Tetapi bukan tanpa tujuan, yang dilakukan mahasiswa S1 Tafsir Hadits Uin ini adalah untuk “memberikat peringatan” kepada para pejabat di lingkaran kekuasaan yang korup serta tidak mensejahterakan rakyat. Semata-mata memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat. 

    Dengan senyum sinis -licik- wapres seperti mengamini tindakan paspampres yang mengeroyok seorang rakyat biasa yang menuntut hak-hak rakyat banyak. Seperti tidak peduli, atau “emang gue pikirin” kemudian kang iqbal diseret menuju ke luar stadion. Seolah perbuatannya menyampaikan aspirasi adalah sebuah tindakan ilegal yang patut ditindak tegas bahkan kasar. 

    Seperti yang disampaikan Kang Iqbal di wawancara eksklusif tvone, ia mengatakan bahwa tindakannya didasari oleh kekesalan yang terakumulasi melihat kondisi bangsa yang carut marut. Hati rakyat mana yang tak sakit, melihat alam kekayaan Indonesia dikeruk, namun perut mereka kelaparan. Siapa yang menikmati? Gayus Tambunan, Partai Politik atau Kroni Presiden?!
    Setelah ditahan semalam di Mapolrestabes Bandung, akhirnya pada hari Sabtu 29 Oktober 2011, Kang Ikbal dibebaskan. Diiringi cacian dan fitnah seperti: “Iqbal sakit jiwa atau Kang Iqbal mencoreng nama baik Bandung”

    Peristiwa ini mewarnai Hari Sumpah Pemuda, setidaknya jauh diatas semua itu, Kang Ikbal memberikan spirit bagi kaum marjinal Indonesia, yang bosan melihat para penguasa hanya memperingati hari Sumpah Pemuda sebagai sebuah seremonial belaka! Kang Iqbal dan Hima Persis serta semua elemen rakyat yang menginginkan keadilan dan kesejahteraan janganlah berhenti bersuara!

    Ryan Alviana
    Ketua PD Hima Persis Garut

    KITA MAU, KITA TAHU, KITA BISA! (SUPORT IQBAL SABARUDIN)


    Pada suatu kesempatan saya pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang ustadz di pesantren. “ustadz, apa yang akan terjadi apabila seandainya dalam catatan sejarah Persis tidak ada Moch Natsir atau Isa Anshori ?”. itulah saat dimana pertama kali saya melihat raut kebingungan tercermin dari wajah ustadz.

    dalam retorik perjuangan seseorang yang memiliki kepribadian ‘peduli’, tindakan yang tegas dan kritis adalah cerminan dari kesungguhan atas kepeduliannya. Kritis seperti Natsir, tegas Seperti Isa Anshori. Realitas yang terjadi selalu membawa ketidakpuasan bahkan kekecewaan. Para pemimpin bangsa itu harus memasukan satu kata lagi dalam pembendaharaan kata di kamus kehidupannya; ialah kata “arif”, alangkah indahnya apabila sang Garuda dapat terbang mengitari dunia  dengan mahkota kearifan yang disandangkan oleh pemimpinnya.

    Kita mau
    Kami sebagai pelajar merasa sangat menginginkan keadilan terjadi untuk “sekali ini saja” disini, di tempat yang katanya keadilan sosial itu adalah untuk seluruh rakyat. Sudah bukan tren-nya lagi belajar hanya di bangku kelas, kami merasa butuh pelajaran dari para pemimpin tentang apa itu kepemimpinan, kami merasa perlu pelajaran dari para aparat hukum tentang apa itu hukum(keadilan). Mohon untuk ajarkan kami, tak perlu dengan menjadi guru kami, cukup dengan perlihatkan nilai nilai dari makna ketuhanan yang maha esa itu. Kalau Tuhan sudah esa dalam hatinya mengapa masih ada ketidakadilan, mengapa masih ada ketidakjujuran.

    Kita Tau
    Kita tahu bahwa waktu tak pernah menunggu, kita tau bahwa sebuah era itu akan berlalu. singgasana yang sedang kalian para pemimpin duduki akan menjadi bagian dari estapeta hidup. Kami akan tetap berbuat dan bersikap seperti yang telah kami pelajari dan rasakan sebelumnya. Mohon bantu kami, semoga kemanusiaan yang adil dan beradab itu dapat terwujud; setidaknya nanti, karena mungkin sekarang belum.
    Kita Bisa
    Kita mengetahui bahwa pernah ada yang mengatakan satu orang di antara kami dapat mengguncangkan dunia, sedangkan sepuluh orang diantara kalian (kacung Garuda) hanya dapat mencabut gunung semeru saja. Ingat bahwa pernyataan tersebut keluar dari mulut yang sama dengan pernyataan kemerdekaan bangsa ini. Mohon bimbingannya, semoga kerakyatan yang bijak bisa benar benar khidmat terjadi, bukan hanya menjadi sebatas pilar tanpa realisasi !

     KAMI KELUARGA BESAR IKATAN PELAJAR PERSATUAN ISLAM GARUT MENYATAKAN DUKUNGAN KEPADA Sdr. IQBAL SABARUDIN DAN KEPADA HIMA PERSIS UNTUK BISA MEMPERJUANGKAN KEADILAN ATAS NAMA ALLAH SWT.
     
    Fadjar Goemelar – Ketum IPP Garut
    Sampaikan langsung Kritik dan saran (083874663554), tenang saja kita tidak punya pasukan pengaman yang akan menghadang dan menganiaya ketika aspirasi di teriakkan. ^_^